Maafkan aku sobat!
masalah ini laksana sebuah balon karet yang kita isikan air ke dalamnya setiap saat kita berkumpul bersama di tempat yang sama dengan kebiasaan yang sama pula. Setiap saat itu pula balon itu membesar dan semakin memperlihatkan uratnya yang memerah yang nyaris tak kuasa lagi menahan beban dan setiap saat itu pula ia telah bersiap memuntakan semua masalah yang telah kita tuangkan ke dalamnya selama ini. Hingga suatu saat iseng kau lemparkan sebatang jarum yang tepat mengenai tengah-tengah balon itu, dan “plash…”
***
Di tempat ini pretama kali kita bertemu dari seorang individu yang membawa kebiasaan masing-masing yang kemudian perbedaan itu terangkai indah dalam bungkusan kata “sahabat”. Saat semua bermula, kita berbagi cerita yang pernah kita terakan dalam setiap langkah kita sebelum akhirnya ujung langkah kita berpijak di tempat ini. Dan dari tempat inilah kita menyusun sebuah cerita, bukan tentang aku bukan pula tentang kamu tapi tentang kita. Hingga tanpa kita sadari telah kita tampung masalah antara kita ke dalam sebuah balon karet itu.
Secangkir kopi, segelas es jeruk, segelas es the, sebotol air mineral, dan sekaleng soft drink-blue. Sebuah kebiasaan kita yang tak pernah tersatukkan oleh menu apapun yang telah kita santap di restoran manapun yang pernah kita kunjungi. Dan masing-masing minnuman tersebut mewakili setiap masalah yang telah kita tuangkan. Kita semua tidak tahu warna apakah yang lebih dominan dan kitapun tak pernah mempermasalahkan soal itu karena kita terlalu asik membahas menu apalagi yang akan kita santap besok dan tempat baru manalagi yang akan kita kunjungi.
Tapi pada suatu saat aku menyadari bahwa balon tersebut sudah mulai meregang dan sudah diambang batas menampung isinya. Aku mulai khawatir karena dibalik kulitnya yang semakin menipis kulihat hitamku begitu dominan. Hingga saat itu kau sambil bercanda menyinggung masalah ini. Dan akhirnya akupun bercerita tentang setiap cangkir kopi yang kutuangkan kesana. Tapi kau masih saja menghiburku, “kita semua sahabat. Kita yang akan menanggung semua, tidak ada yang akan dipersalahkan. Kita hadapi bersama-sama.”
Dan waktu itupun akhirnya tiba. Kau dengan iseng melemparkan sebatang jarum yang tepat mengenai tengah-tengah balon itu, dan, “plash…”. Balonpun pecah dan mengenai kita semua. Kami semua memandangmu dengan tatapan mata tajam tak terkecuali aku. Padahal aku tahu akulah yang paling banyak menuangkan kopi ke sana.
Hening sesaat dan kamu hanya diam siap dipersalahkan atas perlakuan isengmu itu. Dan aku berterima kasih padamu saat itu karena jika kutuangkan secangkir lagi kopiku maka balon itupun akan pecah pula dan tahulah kita siapa yang mestinya dipersalahkan. Terima kasih, kau telah menyelamatkanku, meski sesaat. Karena semua kebenaran pasti akan terungkap pada akhirnya. Dan aku minta maaf atas perlakuanku yang ikut memersalahkanmu. Padahal aku tahu kamu bermaksud membantuku. Seperti yang kamu bilang waktu itu, “Karena kita semua sahabat, kita harus saling membantu menanggung semua masalah bersama-sama.”
Masa pengadilan telah tiba. Kita berkumpul kembali dengan kebiasaan yang sama dan dengan baju yang sama dengan yang kita kenakan waktu terakhir kali kita berkumpul. Dan aku dengan langkah gontai datang terlambat. Karena aku tahu kebenaran telah terkuak, dan aku telah siap menerima hukuman apapun dari kalian. Tapi jika aku boleh mengajukan permohonan terakhirku, “kalian boleh mengusirku dengan cacimaki dan sumpah serapah tapi jangan kalian usir aku dengan mulut membisu dan bibir rapat terkunci.”
READ MORE - Maafkan aku sobat!
Read more...
***
Di tempat ini pretama kali kita bertemu dari seorang individu yang membawa kebiasaan masing-masing yang kemudian perbedaan itu terangkai indah dalam bungkusan kata “sahabat”. Saat semua bermula, kita berbagi cerita yang pernah kita terakan dalam setiap langkah kita sebelum akhirnya ujung langkah kita berpijak di tempat ini. Dan dari tempat inilah kita menyusun sebuah cerita, bukan tentang aku bukan pula tentang kamu tapi tentang kita. Hingga tanpa kita sadari telah kita tampung masalah antara kita ke dalam sebuah balon karet itu.
Secangkir kopi, segelas es jeruk, segelas es the, sebotol air mineral, dan sekaleng soft drink-blue. Sebuah kebiasaan kita yang tak pernah tersatukkan oleh menu apapun yang telah kita santap di restoran manapun yang pernah kita kunjungi. Dan masing-masing minnuman tersebut mewakili setiap masalah yang telah kita tuangkan. Kita semua tidak tahu warna apakah yang lebih dominan dan kitapun tak pernah mempermasalahkan soal itu karena kita terlalu asik membahas menu apalagi yang akan kita santap besok dan tempat baru manalagi yang akan kita kunjungi.
Tapi pada suatu saat aku menyadari bahwa balon tersebut sudah mulai meregang dan sudah diambang batas menampung isinya. Aku mulai khawatir karena dibalik kulitnya yang semakin menipis kulihat hitamku begitu dominan. Hingga saat itu kau sambil bercanda menyinggung masalah ini. Dan akhirnya akupun bercerita tentang setiap cangkir kopi yang kutuangkan kesana. Tapi kau masih saja menghiburku, “kita semua sahabat. Kita yang akan menanggung semua, tidak ada yang akan dipersalahkan. Kita hadapi bersama-sama.”
Dan waktu itupun akhirnya tiba. Kau dengan iseng melemparkan sebatang jarum yang tepat mengenai tengah-tengah balon itu, dan, “plash…”. Balonpun pecah dan mengenai kita semua. Kami semua memandangmu dengan tatapan mata tajam tak terkecuali aku. Padahal aku tahu akulah yang paling banyak menuangkan kopi ke sana.
Hening sesaat dan kamu hanya diam siap dipersalahkan atas perlakuan isengmu itu. Dan aku berterima kasih padamu saat itu karena jika kutuangkan secangkir lagi kopiku maka balon itupun akan pecah pula dan tahulah kita siapa yang mestinya dipersalahkan. Terima kasih, kau telah menyelamatkanku, meski sesaat. Karena semua kebenaran pasti akan terungkap pada akhirnya. Dan aku minta maaf atas perlakuanku yang ikut memersalahkanmu. Padahal aku tahu kamu bermaksud membantuku. Seperti yang kamu bilang waktu itu, “Karena kita semua sahabat, kita harus saling membantu menanggung semua masalah bersama-sama.”
Masa pengadilan telah tiba. Kita berkumpul kembali dengan kebiasaan yang sama dan dengan baju yang sama dengan yang kita kenakan waktu terakhir kali kita berkumpul. Dan aku dengan langkah gontai datang terlambat. Karena aku tahu kebenaran telah terkuak, dan aku telah siap menerima hukuman apapun dari kalian. Tapi jika aku boleh mengajukan permohonan terakhirku, “kalian boleh mengusirku dengan cacimaki dan sumpah serapah tapi jangan kalian usir aku dengan mulut membisu dan bibir rapat terkunci.”

