Wednesday, May 20, 2009

dalam sepi

disaat kau sedang sepi sendiri kemana kau kan berlari? sedangkan tak seorangpun bisa mengerti, apa yang sedang kau cari. kau hanya bisa berkeluh kesah mengutuk hari, yang tiap kali berganti semakin dalam kau sesali. tiap langkah yang kau titi, tanpa arah tujuan pasti. tatapan matamu kosong sunyi, dan pikirmu beku mati. mulutmu meracau tanpa arti, dan hatimu menjerit menangis dalam raga tanpa jati diri. kemana kau kan berlari?

berhetilah, berhentilah berlari, jika tak ingin hampa yang kau dapati. nafasmu masih ada satu dua, sesekali panjang kau hela. rajut kembali mimpimu dalam asa sebelum masa itu tiba. kau masih muda, jangan kau siakan hidupmu tanpa rasa. bangunlah bahtera, bukankah itu yang slalu kau damba?
READ MORE - dalam sepi

Read more...

Thursday, February 5, 2009

Maafkan aku sobat!

masalah ini laksana sebuah balon karet yang kita isikan air ke dalamnya setiap saat kita berkumpul bersama di tempat yang sama dengan kebiasaan yang sama pula. Setiap saat itu pula balon itu membesar dan semakin memperlihatkan uratnya yang memerah yang nyaris tak kuasa lagi menahan beban dan setiap saat itu pula ia telah bersiap memuntakan semua masalah yang telah kita tuangkan ke dalamnya selama ini. Hingga suatu saat iseng kau lemparkan sebatang jarum yang tepat mengenai tengah-tengah balon itu, dan “plash…”
***
Di tempat ini pretama kali kita bertemu dari seorang individu yang membawa kebiasaan masing-masing yang kemudian perbedaan itu terangkai indah dalam bungkusan kata “sahabat”. Saat semua bermula, kita berbagi cerita yang pernah kita terakan dalam setiap langkah kita sebelum akhirnya ujung langkah kita berpijak di tempat ini. Dan dari tempat inilah kita menyusun sebuah cerita, bukan tentang aku bukan pula tentang kamu tapi tentang kita. Hingga tanpa kita sadari telah kita tampung masalah antara kita ke dalam sebuah balon karet itu.
Secangkir kopi, segelas es jeruk, segelas es the, sebotol air mineral, dan sekaleng soft drink-blue. Sebuah kebiasaan kita yang tak pernah tersatukkan oleh menu apapun yang telah kita santap di restoran manapun yang pernah kita kunjungi. Dan masing-masing minnuman tersebut mewakili setiap masalah yang telah kita tuangkan. Kita semua tidak tahu warna apakah yang lebih dominan dan kitapun tak pernah mempermasalahkan soal itu karena kita terlalu asik membahas menu apalagi yang akan kita santap besok dan tempat baru manalagi yang akan kita kunjungi.
Tapi pada suatu saat aku menyadari bahwa balon tersebut sudah mulai meregang dan sudah diambang batas menampung isinya. Aku mulai khawatir karena dibalik kulitnya yang semakin menipis kulihat hitamku begitu dominan. Hingga saat itu kau sambil bercanda menyinggung masalah ini. Dan akhirnya akupun bercerita tentang setiap cangkir kopi yang kutuangkan kesana. Tapi kau masih saja menghiburku, “kita semua sahabat. Kita yang akan menanggung semua, tidak ada yang akan dipersalahkan. Kita hadapi bersama-sama.”
Dan waktu itupun akhirnya tiba. Kau dengan iseng melemparkan sebatang jarum yang tepat mengenai tengah-tengah balon itu, dan, “plash…”. Balonpun pecah dan mengenai kita semua. Kami semua memandangmu dengan tatapan mata tajam tak terkecuali aku. Padahal aku tahu akulah yang paling banyak menuangkan kopi ke sana.
Hening sesaat dan kamu hanya diam siap dipersalahkan atas perlakuan isengmu itu. Dan aku berterima kasih padamu saat itu karena jika kutuangkan secangkir lagi kopiku maka balon itupun akan pecah pula dan tahulah kita siapa yang mestinya dipersalahkan. Terima kasih, kau telah menyelamatkanku, meski sesaat. Karena semua kebenaran pasti akan terungkap pada akhirnya. Dan aku minta maaf atas perlakuanku yang ikut memersalahkanmu. Padahal aku tahu kamu bermaksud membantuku. Seperti yang kamu bilang waktu itu, “Karena kita semua sahabat, kita harus saling membantu menanggung semua masalah bersama-sama.”
Masa pengadilan telah tiba. Kita berkumpul kembali dengan kebiasaan yang sama dan dengan baju yang sama dengan yang kita kenakan waktu terakhir kali kita berkumpul. Dan aku dengan langkah gontai datang terlambat. Karena aku tahu kebenaran telah terkuak, dan aku telah siap menerima hukuman apapun dari kalian. Tapi jika aku boleh mengajukan permohonan terakhirku, “kalian boleh mengusirku dengan cacimaki dan sumpah serapah tapi jangan kalian usir aku dengan mulut membisu dan bibir rapat terkunci.”
READ MORE - Maafkan aku sobat!

Read more...

Friday, December 19, 2008

Ku ingin kau mengerti

Aku terlarut dalam diam terlena di keheningan malam. Seolah tak rela jika ada sebuah suarapun yang akan merusak guratan sepi malam yang membujuk fikirku tuk terus menenggelamkan diri dalam renungan. Sesekali kau ucapkan sebuah kata dan seketika itu juga setiap kata yang kau ucapkan berpendar menguntai malam dan merangkai sebuah cerita yang seolah mengertikanku akan semua maksud ucapanmu meski tak kau jelaskan dengan sebuah alasanpun.
Jika kau bilang iya aku akan mengerti, jika kau bilang tidak pun aku akan mengerti, dan jika kau mau memberikan alasan maka aku minta kau ungkapkan sesingkat mungkin meskipun itu hanya sebuah kata, dengan itupun aku akan mengerti. Meski dalam diammu pun aku akan mengerti karena ronamu telah menggoreskan merahnya di ufuk fajar sedang kerut di keningmu mengarak awan yang menenggelamkan malam dalam keheningan. Semua itu telah mengertikanku.
Tapi aku masih menunggu. Disaat semua telah terhidangkan di hadapanku lengkap dengan sebotol anggur yang siap memabukkanku, aku tetap menunggu. Meski aromanya telah menggodaku hingga nyaris lelah, aku tetap menunggu. Meski hatikupun sempat goyah hingga nyaris tak kuasa menahan, namun aku tetap menunggu. Aku menunggu untuk kau persilahkan karena disini aku hanyalah tamu yang hanya berhak atas segelas airmu.
Dan janganlah lagi kau tanya mengapa. aku sudah terlanjur benci dengan segala pertanyaan mengapa. Aku hanya punya satu alasan saja, sedang seribu satu alasan pun tak kan cukup tuk menjawabnya. Jika kuberikan itu pastinya takkan cukup memuaskanmu bahkan akan semakin banyak kau tanyakan mengapa. Untuk itu aku ingin kau temukan sendiri jawaban atas segala ’mengapa’mu. Karena setiap jawaban yang kau temukan akan menuntunmu tuk temui satu alasanku itu. Aku ingin kau mengerti tanpa harus bertanya mengapa. Aku ingin kau mengerti aku sebagaimana aku mengerti kamu.
READ MORE - Ku ingin kau mengerti

Read more...

Followers

About Me

My photo
PATI, Jateng, Indonesia
setiap kata bisa mempunyai arti yang berbeda bagi setiap orang, begitupun diriku mempunyai arti yang berbeda bagi setiap orang...

Text

komentar

  ©Template by Dicas Blogger.